Feature Top (Full Width)

Label

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Arab. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2018

Mengenal Kitab Al Jurumiyah yang Fenomenal

Kitab jurumiyah ini merupakan kitab nahwu yang dipelajari di pesantren pada umumnya mulai dari pelosok desa hingga pesantren kota. Pengarangnya adalah Abu Abdillah bin Muhammad bin Muhammad bin Daud Ash-Shinhaji atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Ajurum. Beliau bukan berkebangsaan Arab akan tetapi lahir di kota Fes Maroko di tahu yang bersamaan dengan meninggalnya Ibnu Malik pengarang 1002 bait nahwu. Maka pada tahun tersebut pengarang kitab Alfiyah wafat dan pengarang kitab jurumiyah dikahirkan.


Alkisah diceritakan bahwa pengarang kitab ini tatkala telah rampung menulis kaidah-kaidah ilmu nahwu dengan menggunakan sebuah tinta, beliau mempunyai azam untuk meletakkan karyanya tersebut di dalam air. Dengan segala sifat kewara’annya dan ketawakkalannya yang tinggi, beliau berkata dalam dirinya “Ya Allah jika saja karyaku ini akan bermanfaat, maka jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak luntur di dalam air”. Ajaib, ternyata tinta yang tertulis pada lembaran kertas tersebut tidak luntur dan dapat kita nikmati karyanya hingga saat ini.



 

Kitab ini menjelaskan sekitar 24 bab materi dalam nahwu yang merupakan dasar dalam ilmu nahwu. Untuk mendapatkan sesuatu yang besar maka kita perlu mengetahui dasarnya terlebih dahulu. Jadi tidak mengherankan ketika kita bekajar di pondok pesantren dahulu maka kitab ini menjadi materi yang wajib dihafalkan sebelum melanjutkan pada kitab imriti, alfiyah dan lain sebagainya. Jika dilihat dari susunan materinya kitab ini menyajikannya secara runut yaitu dari materi yang mudah kemudian ke materi-materi yang sulit. Hal ini tentu sudah sangat baik apabila mengacu pada prinsip-prinsip sebagai bahan ajar.

 

Kitab ini menjelaskan tentang materi nahwu dasar dalam bahasa Arab. Kitab ini ditulis dengan metode deduktif yaitu dengan penjelasan kaidah atau teori lalu kemudian diberikan contoh mengenai kaidah tersebut. Selain itu karena memang kitab ini merupakan kitab yang ditulis beberapa abad yang lalu maka bahasa dan kalimat yang digunakan sebagai contoh terkesan sangat monoton seperti penggunaan kata ضَرَبَ زَيْدٌ  dan lain sebagainya.

 

 

Rabu, 18 Juli 2018

Humor Bahasa Arab (1)

جُحَا وَالسَّارِقُوْنَ
فِي إِحْدَى الْأَيَّامِ كَانَتْ أُمُّ  جُحَا وَأُخْتُهُ مَدْعُوَّتَيْنِ إِلَى عُرْسٍ فِي الْحَيِّ، فَوَصَّتْ الأُمُّ أَنْ يَحْرُسَ الْمَنْزِلَ حَتَّى لَا يَدْخُلَهُ اللُّصُوْصُ،وَبِمُجَرَّدِ أَنْ خَرَجَتْ الأُمُّ وَبِنْتُهَا نَامَ جُحَا وَدَخَلَ السَّارِقُوْنَ إِلَى الْمَنْزِلِ، وَسَرَقُوْا جَمِيْعَ أَغْرَاضِ الْبَيْتِ.
فَلَمَّا عَادَتْ أُمُّهُ وَأُخْتُهُ مِنَ الْعُرْسِ وَجَدَتَا المَنْزِلَ فَارِغًا ! فَأَسْرَعَتَا إِلَى جُحَا تَسْأَلَانِهِ عَمَّا حَدَثَ فَقَالَ لَهُمَا : أَنْتُمَا طَلَبْتُمَا مِنِّي أَنْ أَحْرُسَ الْبَيْتَ وَلَيْسَ الأَغْرَاضَ.
مَرَّتْ الأَيَّامُ وَتَمَّ دَعْوَتُهُمَا مِنْ جَدِيْدٍ إِلَى مَأْتَمٍ فِي الْحَيِّ، وَمَرَّةً أُخْرَى طَلَبَتَا مِنْ جُحَا أَنْ أَحْرُسَ بَابَ المَنْزِلِ، فَلَمَّا ذَهَبَتَا أَرَادَ جُحَا الذَّهَابَ إِلَى عُرْسِ أَحَدِ أَصْدِقَائِهِ، فَفَكَّرَ فِي حِيْلَةٍ، حَتَّى يَذْهَبَ إِلَى الْعُرْسِ وَفِي نَفْسِ الْوَقْتِ يَفْعَلُ مَا طَلَبَتَا مِنْهُ، فَحَمَلَ بَابَ الْمَنْزِلِ مَعَهُ وَذَهَبَ إِلَى الْعُرْسِ، إِذْ هُوَ فِي الطَّرِيْقِ قَابَلَ وَالِدَتَهُ سَأَلَتْهُ : "مَاذَا تَفْعَلُ ؟". 
 فَقَالَ لَهَا جُحَا : لَقَدْ جَلَبْتُ الْبَابَ مَعِي، وَهَكَذَا لَنْ يَسْرُقَهُ أَحَدٌ، فَضَحِكَ جَمِيْعُ الْمَدْعُوِّيْنَ.

Senin, 18 Juni 2018

Perbedaan antara Tilmidz dan Tholib


Perbedaan kosa kata Arab sering muncul pada para pembelajar bahasa arab adalah pengucapan dan makna dari kata Tilmidz dan Tholib, masih banyak yang beranggapan bahwa kata ini memiliki makna yang sama. padahal apabila kita teliti dengan lenih mendalam kita akan menemukan beberapa aspek perbedaan dari dua kata berikut ini.
“Tilmidz” secara bahasa bermakna "Mengikuti’, “Membantu”, “Pelayan", "Membantu mempelajari kerajinan, kesenian”. Sedangkan dalam Kamus Ma’ashir dan Mu’jam Wasit bermakna “Seorang anak yang belajar (yatalammadz) ilmu”, “Pembelajar yang menuntut ilmu kerajinan dan lainnya”.
Dan ulama bahasa mendefenisikan “Tilmidz” adalah “Pembelajar (siswa) yang belajar di tingkat bawah (ibtida’), menengah (mutawassit).
Maka “Tilmidz” adalah pembelajar yang umurnya sekitar 0-16 tahun, sedangkan setelahnya di sebut dengan “Thalib”. Maka, "Tilmidz" adalah pembelajar (siswa) yang masih membutuhkan arahan (taujih), bimbingan (irsyadat) untuk menuju kematangannya.
“Tilmidz” mereka yang masih dalam bimbingan dan arahan untuk memperbaiki jiwa (nafsiah), mentalitas (Aqliyah) dan perilaku (sulukiyah).
Sedangkan “Thalib” secara Bahasa bermakna “Pencari”, dan secara umum diartikan dengan penuntut ilmu, “thalib” adalah penuntut ilmu yang telah melampaui puber pertama dan memasuki tahap dewasa, serta kemampuan kognitifnya dan pola pemahamannya lebih kompleks daripada siswa (tilmidz).
“Thalib” sering digunakan pembelajar di universitas yang disebut dengan “mahasiswa”, seperti “thalibul al-Jamiah”, atau dalam bahasa Inggris “student”, sedangkan “Tilmidz” dalam Bahasa Inggris sama dengan “pupils”.
“Thalib” juga digunakan untuk sekolah dasar “thalibul madrasah”. Karena kata ini, lebih umum dari “tilmidz”. Namun, penggunakan “tilmidz” khusus kepada pembelajar yang berada di usia anak-anak.
Sedangkan dalam Kamus Mughni, “Thalib” bermakna; (1) yang senang dalam mencari ilmu, (2) dua hal yang paling disenangi, mencari ilmu dan mencari harta (al-Jahidz), 3) suka mencarikan suami untuk anak perempuannya (thaliban lilzawaji mim ibnatiha).

Rabu, 04 April 2018

Sekilas Tentang Kitab An Nahwu Al Wadih

Hukum mempelajari Ilmu Nahwu menurut Syaikh Ahmad Zaini Dahlan adalah Fardlu Kifayah untuk suatu penduduk, dan Fardlu ‘Ain bagi mereka yang ingin mendalami Ilmu Tafsir dan Hadis. oleh karena itu penting kiranya kita juga mengetahui kitab apa yang cocok untuk digunakan sebagai penunjang dalam mempelajari Ilmu Nahwu tersebut.

Kitab An Nahwu Al Wadih ini merupakan salah satu kitab panduan dalam belajar bahasa Arab khususnya ilmu nahwu. Judul kitab ini memberikan gambaran dari isi kitab tersebut yang bermakna “nahwu yang jelas”. Kitab ini sangat populer dan sudah banyak digunakan di lembaga yang mengajarkan bahasa Arab seperti sekolah islam atau pondok pesantren. Di negara asalnya (Mesir) kitab ini diajarkan pada sekolah tingkatan ibtidaiyah atau setingkat sekolah dasar di Indonesia. 

 

Kitab ini ditulis oleh dua orang ahli bahasa Arab yaitu Ali Jarim dan Musthafa Amin. Kitab ini disusun dalam dua level yaitu tingkat dasar dan tingkat menengah yang mana tiap tingkatnya terdapat tiga jilid. Seperti yang telah disinggung oleh penulis kitab dalam muqaddimah kitab tersebut, kitab ini ditulis dengan metode istimbat atau dalam dunia pendidikan lebih dikenal dengan istilah induktif. Metode ini merupakan metode yang bisa lebih diterima pada tingkatan dasar dan yang paling mendekati dengan logika. Penulis kitab ini banyak memberikan contoh-contoh lalu kemudian menyimpulkannya sebagai kaidah atau teori tertentu.

 

Pemberian contoh-contoh ini tentu sangat memudahkan para pebelajar bahasa Arab. Terkadang kita lebih bisa memahami suatu teori atau kaidah apabila sudah diberikan contohnya. Begitu juga dalam mempelajari ilmu nahwu ini. Kitab-kitab yang lain pada umumnya memberikan contoh setelah penjelasan teori atau kaidah. Namun dalam kitab ini penulis kitab ini memberikan beberapa contoh dulu untuk kemudian mengantarkan pebelajar untuk menyimpulkan kaidah atau teori dari beberapa contoh tersebut. Sebagaimana buku pelajaran, kitab ini juga dilengkapi dengan Tamrin atau latihan sesuai dengan materi yang telah ditulis sebelumnya. 

 

Pada sisi lain, kitab ini secara contoh penggunaan kalimat dan mufrodatnya memang terkesan masih bahasa atau kalimat lama yang tidak up to date dengan keadaan saat ini karena masih banyak pencontohan seperti يَزْرَعُ الْفَلّاحُ القُمْحَ dan lain sebagainya. Mugkin jika penggunaan kosa kata dengan kalimat yang baru mungkin akan menjadi kitab yang sangat cocok digunakan pembelajar bahasa di era sekarang ini seperti يَذْهَبُ الْأُسْتَاذُ إِلَى الْقَمَرِ hehehe.

 

Mungkin demikian sebatas yang penulis ketahui dengan Kitab An Nahwu Al Wadih. Semoga tulisan ringan ini memberikan gambaran pada kitab tersebut.

 

Kamis, 18 Januari 2018

Belajar Bahasa Arab Mandiri

Pernah nggak sih tiba-tiba aja lewat sekelompok orang yang asyik diskusi dalam bahasa Arab, pengin banget bisa ikut nimbrung pembicaraan mereka tapi nggak tahu harus ngomong bagaimana? Di saat seperti itu sekolah ternyata nggak membuka kelas bahasa Arab tambahan atau pengin kursus tapi waktu nggak memadai? Kali ini Kita akan berbagi cara asyik belajar bahasa Arab yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, dan siapapun bisa melakukannya kok. !

1. Teknologi Itu Disebut "Internet"
Manfaatkan koneksi internet yang kamu punya untuk belajar. Saat ini ada banyak situs yang bisa diakses untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya adalah arabic-online.net yang diprakasai oleh Rosetta Stone. Di dunia polyglot, Rosetta Stone adalah salah satu penyedia software pembelajaran bahasa asing yang paling terkenal. Beberapa situs memang harus membayar untuk mendapatkan full service. Selain dapat diakses di browser, beberapa menyediakan aplikasi yang bisa diunduh baik di App Store, Play Store, atau Windows Store.
Selain melalui browser dan aplikasi, coba juga manfaatkan YouTube untuk belajar. Channel-channel milik Innovative Language umumnya menyediakan cara baca maupun tulis, kalimat-kalimat yang umum digunakan, dan Mufrodat yang bisa menambah perbendaharaan kosa kata kamu. selain itu kamu juga bisa sering-sering mendengarkan berita-berita yang berbahasa arab agar kita terbiasa dan tidak asing dalam mendengarkan mufrodat yang baru dalam bahasa arab.
2. Bernyanyi dan Terus Belajar
Belajar dengan lagu bisa jadi adalah cara belajar paling menyenangkan yang bisa dilakukan. Selain bisa menikmati lagunya, melalui lagu kamu bisa belajar kosa kata baru, (kadang) memahami tata bahasa, dan memperlancar kemampuanmu dalam mendengarkan dan berbicara. Saat menemukan sebuah lagu asing, kamu akan mencari liriknya. Dari lirik tersebut bisa kamu pelajari kata-kata yang kamu dapatkan. Selagi kamu mencocokkan lagu dengan lirik, kamu bisa belajar mendengarkan dan membaca sekaligus. Saat kamu menyanyikannya, kamu belajar cara mereka berbicara, termasuk bisa latihan memperjelas pelafalan katamu. Keuntungannya belajar menggunakan lagu adalah kosa kata dan idiom yang digunakan bisa up to date karena umumnya lagu berasal dari kisah sehari-hari yang mungkin nggak bisa kamu dapatkan di sekolah atau tempat kursus. Kamu bisa mendengar lagu lagu dari nancy ajrem yang banyak cinta-cintanya yang sesuai dengan kosakata saat ini.
3. Temukan Partner Bahasa-mu!
Bisa dibilang belajar bahasa nggak greget kalau nggak dipraktikkan dengan penutur aslinya. Ini termasuk langkah yang recommended karena kamu bisa belajar langsung bagaimana penutur aslinya mengucapkan suatu kata atau menempatkan suatu kata. Kamu sedikit banyak juga bisa belajar budaya mereka.
Kamu bisa mendatangi tempat-tempat yang dikenal untuk mencari native. Kamu bisa juga sesuaikan timing-nya, misalnya kamu mendatangi tempat wisata internasional di sekitar bulan Juli ketika mereka sedang libur musim panas sementara kamu menunggu masuk kuliah semester pertama. Selain bertemu langsung, saat ini ada berbagai macam situs dan aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk chatting dengan para penutur asli, misalnya iTalki dan HelloTalk. Situs-situs tersebut memang dirancang untuk keperluan praktik berbicara jadi privasi dan keamanannya tentu juga sudah disesuaikan.
Praktik dengan sesama penutur meski bukan penutur asli juga bisa jadi alternatif, misalnya dengan mengikuti komunitas dan praktik dengan sesama anggota komunitas. Kamu bisa menjaga silaturahim dengan mereka dengan menggunakan bahasa target kalian. Sering ikut seminar, selain membantu memperlancar kemampuan berbahasa arab juga bisa menambah teman.

4. Tetap dan Terus Berlatih!

Dan semua tips di atas nggak akan ada gunanya kalau nggak dipraktikkan. Tips-tips di atas sifatnya learning by doing, jadi kalau kamu nggak praktik sama aja kamu nggak belajar :D
Dan belajar sebagaimanapun asyiknya pasti menemukan titik jenuh. Jangan ragu juga jika ingin praktek. Nggak masalah salah tata bahasa nahwu sharafnya, selama lawan bicaramu mengerti apa yang kamu sampaikan
جَرِّبْ وَلاَحَظْ تَكُنْ عَارِفاً