Feature Top (Full Width)

Rabu, 12 Agustus 2020

Mufrodat atau Kosakata Bahasa Arab Sayuran

 

Sayur sayuran

خُدْرَوَاةٌ (ج)

Cabe

فِلْفِلٌ

Sawi

خَرْدَلَةٌ

Timun

خِيَارٌ

Terong

بَاذِنْجَانَةٌ

Kobis

مَلْفُوْفٌ

Kentang

بَطَاطِسٌ

 

 

 

Senin, 07 Oktober 2019

Kosa kata bahasa Arab di Universitas

 Berikut ini kami sampaikan beberapa mufrodat yang berkenaan dengan apa yang ada dalam kampus

 

Kampus

جَامِعَةٌ

Jurusan

قِسْمٌ

Fakultas

كُليَّةٌ

Aula

قَاعَةٌ

Laboratorium

مَعْمَلٌ

Diskusi

مُنَاقَشَةٌ

Perpustakaan

مَكْتَبَةٌ

Pascasarjana

دِرَاسَةُ الْعُلْيَا

Dosen

مُحَاضِرٌ

 

 

Kamis, 16 Agustus 2018

Mengenal Kitab Al Jurumiyah yang Fenomenal

Kitab jurumiyah ini merupakan kitab nahwu yang dipelajari di pesantren pada umumnya mulai dari pelosok desa hingga pesantren kota. Pengarangnya adalah Abu Abdillah bin Muhammad bin Muhammad bin Daud Ash-Shinhaji atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Ajurum. Beliau bukan berkebangsaan Arab akan tetapi lahir di kota Fes Maroko di tahu yang bersamaan dengan meninggalnya Ibnu Malik pengarang 1002 bait nahwu. Maka pada tahun tersebut pengarang kitab Alfiyah wafat dan pengarang kitab jurumiyah dikahirkan.


Alkisah diceritakan bahwa pengarang kitab ini tatkala telah rampung menulis kaidah-kaidah ilmu nahwu dengan menggunakan sebuah tinta, beliau mempunyai azam untuk meletakkan karyanya tersebut di dalam air. Dengan segala sifat kewara’annya dan ketawakkalannya yang tinggi, beliau berkata dalam dirinya “Ya Allah jika saja karyaku ini akan bermanfaat, maka jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak luntur di dalam air”. Ajaib, ternyata tinta yang tertulis pada lembaran kertas tersebut tidak luntur dan dapat kita nikmati karyanya hingga saat ini.



 

Kitab ini menjelaskan sekitar 24 bab materi dalam nahwu yang merupakan dasar dalam ilmu nahwu. Untuk mendapatkan sesuatu yang besar maka kita perlu mengetahui dasarnya terlebih dahulu. Jadi tidak mengherankan ketika kita bekajar di pondok pesantren dahulu maka kitab ini menjadi materi yang wajib dihafalkan sebelum melanjutkan pada kitab imriti, alfiyah dan lain sebagainya. Jika dilihat dari susunan materinya kitab ini menyajikannya secara runut yaitu dari materi yang mudah kemudian ke materi-materi yang sulit. Hal ini tentu sudah sangat baik apabila mengacu pada prinsip-prinsip sebagai bahan ajar.

 

Kitab ini menjelaskan tentang materi nahwu dasar dalam bahasa Arab. Kitab ini ditulis dengan metode deduktif yaitu dengan penjelasan kaidah atau teori lalu kemudian diberikan contoh mengenai kaidah tersebut. Selain itu karena memang kitab ini merupakan kitab yang ditulis beberapa abad yang lalu maka bahasa dan kalimat yang digunakan sebagai contoh terkesan sangat monoton seperti penggunaan kata ضَرَبَ زَيْدٌ  dan lain sebagainya.

 

 

Rabu, 18 Juli 2018

Humor Bahasa Arab (1)

جُحَا وَالسَّارِقُوْنَ
فِي إِحْدَى الْأَيَّامِ كَانَتْ أُمُّ  جُحَا وَأُخْتُهُ مَدْعُوَّتَيْنِ إِلَى عُرْسٍ فِي الْحَيِّ، فَوَصَّتْ الأُمُّ أَنْ يَحْرُسَ الْمَنْزِلَ حَتَّى لَا يَدْخُلَهُ اللُّصُوْصُ،وَبِمُجَرَّدِ أَنْ خَرَجَتْ الأُمُّ وَبِنْتُهَا نَامَ جُحَا وَدَخَلَ السَّارِقُوْنَ إِلَى الْمَنْزِلِ، وَسَرَقُوْا جَمِيْعَ أَغْرَاضِ الْبَيْتِ.
فَلَمَّا عَادَتْ أُمُّهُ وَأُخْتُهُ مِنَ الْعُرْسِ وَجَدَتَا المَنْزِلَ فَارِغًا ! فَأَسْرَعَتَا إِلَى جُحَا تَسْأَلَانِهِ عَمَّا حَدَثَ فَقَالَ لَهُمَا : أَنْتُمَا طَلَبْتُمَا مِنِّي أَنْ أَحْرُسَ الْبَيْتَ وَلَيْسَ الأَغْرَاضَ.
مَرَّتْ الأَيَّامُ وَتَمَّ دَعْوَتُهُمَا مِنْ جَدِيْدٍ إِلَى مَأْتَمٍ فِي الْحَيِّ، وَمَرَّةً أُخْرَى طَلَبَتَا مِنْ جُحَا أَنْ أَحْرُسَ بَابَ المَنْزِلِ، فَلَمَّا ذَهَبَتَا أَرَادَ جُحَا الذَّهَابَ إِلَى عُرْسِ أَحَدِ أَصْدِقَائِهِ، فَفَكَّرَ فِي حِيْلَةٍ، حَتَّى يَذْهَبَ إِلَى الْعُرْسِ وَفِي نَفْسِ الْوَقْتِ يَفْعَلُ مَا طَلَبَتَا مِنْهُ، فَحَمَلَ بَابَ الْمَنْزِلِ مَعَهُ وَذَهَبَ إِلَى الْعُرْسِ، إِذْ هُوَ فِي الطَّرِيْقِ قَابَلَ وَالِدَتَهُ سَأَلَتْهُ : "مَاذَا تَفْعَلُ ؟". 
 فَقَالَ لَهَا جُحَا : لَقَدْ جَلَبْتُ الْبَابَ مَعِي، وَهَكَذَا لَنْ يَسْرُقَهُ أَحَدٌ، فَضَحِكَ جَمِيْعُ الْمَدْعُوِّيْنَ.

Senin, 18 Juni 2018

Perbedaan antara Tilmidz dan Tholib


Perbedaan kosa kata Arab sering muncul pada para pembelajar bahasa arab adalah pengucapan dan makna dari kata Tilmidz dan Tholib, masih banyak yang beranggapan bahwa kata ini memiliki makna yang sama. padahal apabila kita teliti dengan lenih mendalam kita akan menemukan beberapa aspek perbedaan dari dua kata berikut ini.
“Tilmidz” secara bahasa bermakna "Mengikuti’, “Membantu”, “Pelayan", "Membantu mempelajari kerajinan, kesenian”. Sedangkan dalam Kamus Ma’ashir dan Mu’jam Wasit bermakna “Seorang anak yang belajar (yatalammadz) ilmu”, “Pembelajar yang menuntut ilmu kerajinan dan lainnya”.
Dan ulama bahasa mendefenisikan “Tilmidz” adalah “Pembelajar (siswa) yang belajar di tingkat bawah (ibtida’), menengah (mutawassit).
Maka “Tilmidz” adalah pembelajar yang umurnya sekitar 0-16 tahun, sedangkan setelahnya di sebut dengan “Thalib”. Maka, "Tilmidz" adalah pembelajar (siswa) yang masih membutuhkan arahan (taujih), bimbingan (irsyadat) untuk menuju kematangannya.
“Tilmidz” mereka yang masih dalam bimbingan dan arahan untuk memperbaiki jiwa (nafsiah), mentalitas (Aqliyah) dan perilaku (sulukiyah).
Sedangkan “Thalib” secara Bahasa bermakna “Pencari”, dan secara umum diartikan dengan penuntut ilmu, “thalib” adalah penuntut ilmu yang telah melampaui puber pertama dan memasuki tahap dewasa, serta kemampuan kognitifnya dan pola pemahamannya lebih kompleks daripada siswa (tilmidz).
“Thalib” sering digunakan pembelajar di universitas yang disebut dengan “mahasiswa”, seperti “thalibul al-Jamiah”, atau dalam bahasa Inggris “student”, sedangkan “Tilmidz” dalam Bahasa Inggris sama dengan “pupils”.
“Thalib” juga digunakan untuk sekolah dasar “thalibul madrasah”. Karena kata ini, lebih umum dari “tilmidz”. Namun, penggunakan “tilmidz” khusus kepada pembelajar yang berada di usia anak-anak.
Sedangkan dalam Kamus Mughni, “Thalib” bermakna; (1) yang senang dalam mencari ilmu, (2) dua hal yang paling disenangi, mencari ilmu dan mencari harta (al-Jahidz), 3) suka mencarikan suami untuk anak perempuannya (thaliban lilzawaji mim ibnatiha).

Rabu, 09 Mei 2018

Belajar dari Sistem Pendidikan Tunisia



Tunisia merupakan sebuah negara kecil yang terletak di utara benua Afrika, berbatasan dengan Libya sebelah timur dan Aljazair di sebelah barat. Luas Tunisia hanya 165.000 km² dengan jumlah penduduk 11,53 juta jiwa (Tahun 2017). Bahasa Arab menjadi bahasa resmi negara dan bahasa Perancis sebagai bahasa kedua.
Sistem pendidikan di Tunisia sebenarnya mengadopsi dari sistem pendidikan Prancis, pendidikan di Tunisia adalah pendidikan dasar 9 tahun (Ibtidaaiyaah 6 tahun atau kalau di Indonesia diibaratkan SD, Idaadiyaah 3 tahun atau kalau di Indonesia diibaratkan SMP ). Pendidikan menengah (ta’lim tsanawi) memerlukan waktu 4 tahun, satu tahun pertama pelajaran umum tanpa penjurusan, 3 tahun selanjutnya penjurusan. Ijazah untuk pendidikan menengah adalah baccalaureat.
Di ibtidaaiyah dari kelas 1 dan 2, hanya diajarkan pelajaran dasar: bahasa arab, berhitung,tulis baca, puasa, cara shalat, dan alquran. Pada tahun ke-3 sekolah, ditambah dengan bahasa Prancis. Saat di kelas 4, 5, dan 6 ditambah lagi dengan ilmu bumi dasar dan biologi. Seluruh pelajaran di ibtidaaiyah diajarkan dalam bahasa Arab. 
Sedangkan idaadiyyah (persiapan) yang di Indonesia dikenal dengan SMP, belajarnya juga tiga tahun. Mata pelajarannya meliputi matematika, biologi, fisika, tarbiyah islamiah, ditambah bahasa Inggris dan memperdalam bahasa perancis, tapi sudah lebih tinggi levelnya. Beda lainnya, di tingkat ibtidaaiyah seluruh pelajaran diajarkan dengan bahasa Arab. Sedangkan di idaadiyyah, seluruh pelajaran diajarkan dengan bahasa Prancis.
Kemudian, tingkatan kedua dinamai ta’lim tsanawi (pendidikan menengah atas), di Indonesia dinamai SMA atau madrasah tsanawiah. Yang berbeda, di Tunis, SMA itu belajarnya empat tahun, sedangkan di Indonesia tiga tahun. Kemudian, di akhir tahun pertama diadakan ujian. Berdasarkan hasil ujian ini, pada tahun ke-2, 3, dan 4, para siswa dibagi jurusan menurut keahliannya. Jurusan bukan atas pilihan si murid, tapi ditentukan dari hasil ujiannya di kelas 1. Di tsanawi, terbagi atas enam jurusan: riadhiyat (matematika), sains, ekonomi, ilaamiyyah (informatika), dan olah raga yang kesemuanya dikategorikan ke dalam jurusan umum (5 jurusan umum).  Dan satu jurusan khusus/jurusan agama yang mempelajari filsafat, adab, syariah, bahasa arab, dan ilmu sosial. Pada akhir tahun ke-4, barulah diadakan ujian akhir. Indonesia menyebutnya Ujian Nasional (UN). Di Tunis namanya baccaleuriat dalam bahasa Prancis, tapi orang Tunis mengucapnya bacalori. Untuk menjaga mutu, mereka perketat sistem kelulusan. Di tingkat tsanawi (menengah atas), bila tidak lulus ujian bacalori (ujian akhir), siswa wajib ulang. Istilahnya tadaaruk. Bila juga tak lulus, maka harus duduk kembali di kelas 4. Diberi waktu tiga tahun atau tiga kali bila juga tak lulus, maka siswa tersebut tidak dibenarkan melanjutkan kuliah. 
Kalau lulus bacalori, siswa bisa langsung lanjut kuliah yang sesuai dengan jurusan masing-masing. Tak ada lagi ujian masuk perguruan tinggi. Tapi ia tak boleh ke universitas atau prodi lain yang berbeda dengan jurusan yang telah ditentukan ketika belajar di tsanawi.
 Yang ketiga adalah ta’lim ‘ali (pendidikan tinggi). Ini berbeda aturannya antara satu universitas dengan yang lainnya. Ada universitas yang untuk S1-nya, perlu waktu belajar lima tahun. Tapi ada pula yang hanya tiga tahun, seperti  di Universitas Zaituna.
Yang juga menarik adalah jurusan sains (di Indonesia teknik -red) S1 belajarnya enam tahun. Kalau lulus, dapat gelar muhandis (insinyur). Hebatnya insinyur di Tunis, dapat gelar ganda. Mereka sudah dianggap menyelesaikan S2 (magister) dan langsung bisa lanjut ke program doktor. Tapi, tidak untuk semua jurusan, hanya untuk insinyur.


Rabu, 04 April 2018

Sekilas Tentang Kitab An Nahwu Al Wadih

Hukum mempelajari Ilmu Nahwu menurut Syaikh Ahmad Zaini Dahlan adalah Fardlu Kifayah untuk suatu penduduk, dan Fardlu ‘Ain bagi mereka yang ingin mendalami Ilmu Tafsir dan Hadis. oleh karena itu penting kiranya kita juga mengetahui kitab apa yang cocok untuk digunakan sebagai penunjang dalam mempelajari Ilmu Nahwu tersebut.

Kitab An Nahwu Al Wadih ini merupakan salah satu kitab panduan dalam belajar bahasa Arab khususnya ilmu nahwu. Judul kitab ini memberikan gambaran dari isi kitab tersebut yang bermakna “nahwu yang jelas”. Kitab ini sangat populer dan sudah banyak digunakan di lembaga yang mengajarkan bahasa Arab seperti sekolah islam atau pondok pesantren. Di negara asalnya (Mesir) kitab ini diajarkan pada sekolah tingkatan ibtidaiyah atau setingkat sekolah dasar di Indonesia. 

 

Kitab ini ditulis oleh dua orang ahli bahasa Arab yaitu Ali Jarim dan Musthafa Amin. Kitab ini disusun dalam dua level yaitu tingkat dasar dan tingkat menengah yang mana tiap tingkatnya terdapat tiga jilid. Seperti yang telah disinggung oleh penulis kitab dalam muqaddimah kitab tersebut, kitab ini ditulis dengan metode istimbat atau dalam dunia pendidikan lebih dikenal dengan istilah induktif. Metode ini merupakan metode yang bisa lebih diterima pada tingkatan dasar dan yang paling mendekati dengan logika. Penulis kitab ini banyak memberikan contoh-contoh lalu kemudian menyimpulkannya sebagai kaidah atau teori tertentu.

 

Pemberian contoh-contoh ini tentu sangat memudahkan para pebelajar bahasa Arab. Terkadang kita lebih bisa memahami suatu teori atau kaidah apabila sudah diberikan contohnya. Begitu juga dalam mempelajari ilmu nahwu ini. Kitab-kitab yang lain pada umumnya memberikan contoh setelah penjelasan teori atau kaidah. Namun dalam kitab ini penulis kitab ini memberikan beberapa contoh dulu untuk kemudian mengantarkan pebelajar untuk menyimpulkan kaidah atau teori dari beberapa contoh tersebut. Sebagaimana buku pelajaran, kitab ini juga dilengkapi dengan Tamrin atau latihan sesuai dengan materi yang telah ditulis sebelumnya. 

 

Pada sisi lain, kitab ini secara contoh penggunaan kalimat dan mufrodatnya memang terkesan masih bahasa atau kalimat lama yang tidak up to date dengan keadaan saat ini karena masih banyak pencontohan seperti يَزْرَعُ الْفَلّاحُ القُمْحَ dan lain sebagainya. Mugkin jika penggunaan kosa kata dengan kalimat yang baru mungkin akan menjadi kitab yang sangat cocok digunakan pembelajar bahasa di era sekarang ini seperti يَذْهَبُ الْأُسْتَاذُ إِلَى الْقَمَرِ hehehe.

 

Mungkin demikian sebatas yang penulis ketahui dengan Kitab An Nahwu Al Wadih. Semoga tulisan ringan ini memberikan gambaran pada kitab tersebut.